Ilmu dan Pendekatan

HAY psychofams! apa kabar kalian? semoga dalam kondisi sehat semua ya. Pada postingan sebelumnya kalian sudah tau kan apa itu psikologi, nah sekarang kita akan membahas tentang ilmu dan pendekatan yang digunakan pada awal ilmu psikologi.

Wilhem Wundt

Filsafat Barat adalah ilmu yang muncul pada abad ke-4 dan ke-5 sebelum masehi, pada jaman Yunani Kuno. Para filsuf pada jaman itu seperti Sokrates, Plato, Aristoteles, dsb. Mereka selalu memperdebatkan tentang darimana pengetahuan itu berasal, hakikat mengenai pikiran dan perilaku manusia, termasuk kemungkinan hubungan antara pikiran dengan tubuh. Namun salah satu filsuf yang bernama Rene Descrates berpendapat bahwa tubuh dan pikiran merupakan 2 hal yang benar – benar terpisah dan memusatkan perhatian mereka pada pikiran.

Pengaruh ilmu filsafat masih terasa hingga saat ini, seperti para peneliti yang mengkaji tentang emosi masih membicarakan mengenai teori yang dikemukakan oleh Rene Descrates atau peneliti yang mengkaji tentang kebahagiaan masih mengacu pada Aristoteles. Nah psychofams, psikologi bukan cuma menggunakan filsafat saja. Tetapi juga menggunakan ilmu biologi dan fisiologi sebagai landasan teori yang digunakan. Nah tokoh yang menyatukan filsafat dengan ilmu pengetahuan alam sehingga menjadi ilmu psikologi ialah Wilhelm Wundt. 

Nah psychofams, psikologi modern lahir pada bulan Desember 1879 di University of Leipzig.

STRUKTURALISME
Penelitian utama yang dilakukan oleh Wundt dan mahasiswanya memusatkan pada upaya untuk menemukan unsur-unsur dasar atau “struktur” proses-proses mental. Salah satu mahasiswa Wundt, yang bernama E. B. Titchener menamakan pendekatan Wundt sebagai strukturalisme (structuralism) karena fokusnya dalam mengidentifikasi berbagai struktur pikiran manusia.
Metode yang dipergunakan dalam mengkaji struktur mental adalah introspeksi (secara harfiah, “melihat ke dalam”). Berikut adalah salah satu experimen yang menjadi dasar strukturalisme, seseorang ditempatkan dalam sebuah lingkungan laboratorium kemudian individu tersebut dihadapkan dengan bunyi sesuatu yang kencang secara berulang- ulang dan diminta untuk melaporkan apapun perasaan sadar yang dihasilkan oleh bunyi tersebut serta diminta untuk memikirkan (introspeksi) mengenai hal tersebut.
FUNGSIONALISME
Berbeda dengan strukturalisme, fungsionalisme lebih memusatkan pada fungsi dan tujuan dari pikiran dan perilaku dalam adaptasi individu dengan lingkungan serta fungsionalisme lebih memusatkan pada apa yang terjadi dalam interaksi manusia dengan lingkungan luar. Jika strukturalisme mengenai “apa” dari pikiran, maka fungsionalisme mengenai “mengapa”.
Para penganut fungsionalisme tidak percaya dengan eksistensi struktur pikiran yang dasar dan kaku. William James (salah satu tokoh fungsionalisme) memandang pikiran sebagai sesuatu yang luwes dan cair, dicirikan dengan perubahan dan adaptasi yang terus menerus dalam berespons terhadap aliran informasi yang berkesinambungan

2 Komentar

Ahay · Februari 18, 2019 pada 2:22 pm

Trimaksih min, sangat membantu untuk tugas saya hehe

    admin · Februari 18, 2019 pada 2:24 pm

    sama2.. semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *